Sebuah pesan "pamit" dari salah satu PJ Kelas (istilah lokal untuk juru bicara kelas kepada pengajarnya) hinggap ke Whatsapp, dia mengungkapkan terima kasih atas apa yang telah saya berikan selama kurang lebih satu semester. Karena waktu yang begitu sempit saya balas dengan sebuah canda, "Saya sedang mengetik balasan."
Tidak saya sangka, dua minggu berselang Sang PJ menagih saya untuk membalasnya. Sebenarnya, jawaban dari saya tentu bisa ditebak mahasiswa, terima kasih kembali, atau mengungkapkan puja puji kepada mahasiswa aktif dan lain sebagainya yang sejenisnya. Itu bisa kita bayangkan, bukan?
Saya tidak ingin menulis itu di sini. Saya ingin mengenang kisah masa lalu saya yang cukup saya ingat saat seumuran mahasiswa. Nggak penting-penting amat sebenarnya. Silahkan skip saja kalau pembaca nggak punya waktu, dan berhemat tenaga.
Kala itu, di semester satu, masa-masa saya mencari organisasi yang pas untuk saya ikuti. Saat itu saya terhitung gemar mengikuti berbagai orientasi kegiatan. Mulai dari IQMA (Ikatan Qari-qariah Mahasiswa)--eh, bentar, saya ikut ini karena ada program kaligrafi, bukan tilawahnya. Saya sadar betul suara saya jauh dari jangkauan provider mana pun--, PMII, Pramuka, DeMas (Dewan Mahasantri), hingga organisasi Mahasiswa Nganjuk yang saat itu bernama Permaka (Persatuan Mahasiswa Kota Angin).
Jumlah yang banyak itu tidak lain dan bukan karena mencari yang cocok saja. Saya meninggalkan beberapa organisasi karena ketidakcocokan antara kami berdua. Ciee. Pramuka, misalnya, saya tinggal jauh-jauh karena masih banyak acara bentak-bentakan di sana. Saya juga meninggalkan IQMA karena programnya nggak nggak cocok saja sih.
Apa yang saya lakukan tidak lain dan bukan karena saya menganggur. Kuliah saya di Surabaya, sementara kampung halaman saya yang jauh membuat saya jadi jarang pulang kampung. Jadi, mengikuti organisasi adalah jalan ninja yang mampu mengisi waktu luang akhir pekan saya kala itu.
Namun, semua berubah saat di semester 3. Saat itu saya berkunjung ke Madrasah almamater. Siapa yang tidak suka mengunjungi tempat nyantri bertahun-tahun itu? Satu momen datang, Saya bertemu dengan Abah Yai secara tidak sengaja. "Sampean ikut mengajar di sini ya," beliau berujar demikian tiba-tiba.
Sebagai seorang santri yang taat, saya sendika dawuh (patuh tanpa bertanya) saat itu. Sendika dawuh yang dapat saya sayangkan hingga saat ini. Setelah itu saya mendapat jadwal mengajar, SK dan tentu saja gaji bulanan. Menyenangkan untuk ukuran saya saat itu. Dan tajwid adalah mata pelajaran pertama yang saya dapatkan.
Setelah itu, saya nyaris tidak bisa mempunyai waktu di akhir pekan. Jumat saya kembali ke Madrasah untuk mengajar di hari Sabtu dan Minggu. Kemudian pergi lagi untuk kuliah di hari Senin dini hari.
Akhirnya, keputusan saya itu berimbas kepada kegiatan saya berorganisasi yang tidak maksimal. Kemudian berimbas pula kepada fokus kuliah saya. Kegiatan berjejaring saya jadi minim, dan pengalaman soft skill yang berkurang. Tenang, saya masih bersyukur digariskan mengabdi di Madrasah dulu, tapi mengeluh akan hal itu sepertinya tidak salah juga.
Jika mungkin saya diberi kesempatan mengulang ke tahun 2008 saya pasti akan beli Bitcoin, eh, saya akan menghindari pertemuan dengan pimpinan madrasah almamater saya dulu, sehingga tidak perlu menanggung jawaban sami'na wa ata'na kala itu. Ah, seandainya saya pegang jam digitalnya Im Sol dalam Lovely Runner. Hmmm.
Saya mungkin akan giat membaca lagi, menulis puisi, berpikir filsafat yang kala itu sangat digandrungi dan baru saya pahami sekarang, hingga berlatih menulis karya tulis lain, atau ikut demo dan sembunyi di warung kala dibubarkan polisi, bahkan mungkin saya akan ikut kursus bahasa asing seperti teman-teman seangkatan lakukan. Serius saya iri. Juga, saya mungkin mencari dosen mentor menulis yang saat itu memang ada namun tidak saya manfaatkan karena sibuk wira-wiri.
Ah, ada banyak seandainya jika seandainya ...
Mungkin untuk saat ini apa yang saya katakan tidak relate untuk generasi sekarang. Tapi intinya hanyalah saya ingin memanfaatkan kesempatan separipurna mungkin, dan tidak membuangnya sedikit pun. Karena seperti kata orang-orang: Waktu tidak akan kembali, dan masa sekarang adalah sebuah anugrah yang sangat berharga.
Jadi tentu harapan saya adalah agar para mahasiswa memanfaatkan waktu dan tenaganya untuk hal yang pasti berguna di masa yang akan datang, apa pun itu. Siapa yang tidak bahagia bisa menjawab berbagai tes dengan baik: TOAFL, TOEFL, IELTS, hingga tes CPNS. Bukankah hidup kita bertaburan dengan tes sana sini?
***
Selesai mengoreksi jawaban-jawaban UAS mahasiswa kemarin, saya merenung di depan teras seperti layaknya bapak-bapak seumuran saya. Ditemani secangkir teh, tentu bukan kopi, perut saya gampang kembung jika diisi kopi selain pagi hari. Imajinasi saya berusaha keras menulis ini, kemudian:
Para mahasiswa itu bagaikan bermain puzzle, bayangkan saya membelikan mainan puzzle untuk para remaja, kemudian mereka bermain dengan ribuan potongan yang rumit. Saya memberikan gambar besar yang menjadi pedoman menyusun puzzle.
Seluruh puzzle disusun dengan pelan, dan baik. Mereka memainkannya dengan seru dan riang gembira. Pelan-pelan sebuah gambar pemandangan tampak jelas, hanya tinggal satu lubang yang bergambar Matahari. Matahari itu yang membuat gradasi yang kuat, mempengaruhi hampir seluruh warna kepingan puzzle. Hampir semua puzzle ada warna orange, dan putih. Hasil papasan cahaya kuat itu.
Namun, potongan puzzle itu tidak ditemukan. Semua panik mencari potongan terakhir. Ketika mereka bertanya kepada saya. "Saya nggak tahu, di kardus nggak ada. Tertinggal di DC Ngawi mungkin," kuangkat kedua bahuku.
"Satu hal yang harus kalian tahu. Puzzle ini puzzle sulap. Entah bagaimana cara kerjanya, yang jelas sulap," saya menambahkan sambil menunjukkan bungkus dengan tulisan "magic" di sana.
Mereka mencarinya. Tiba-tiba salah satu di antara mereka menemukannya. "Ini puzzle terakhir!!!" Teriaknya kegirangan.
"Kamu temukan di mana?"
"Di tasku, iya, di tasku sendiri."
Dengan kompak mereka mencari di saku, tas, dompet tangan, hingga belakang softcase hape masing-masing. Ajaib, mereka menemukannya di sana. Padahal puzzle itu dibuka dari paketnya bersama-sama sejak awal. Saya pun tidak pernah utak-atik paket itu.
"Teman-teman, puzzle terakhir ternyata ada di tangan kalian," begitu kira-kira saya mengakhiri lamunan itu.
***

0 Komentar